Saat malam membentangkan jubah hitamnya. angin sejuk dari utara semilir mengalir. aku terpekur dalam nestapa di kamarku. mataku berkaca-kaca. hatiku basah pikiranku bingung. apa yang sedang menimpa diriku. sejak awal ramadhan 1432 H, hatiku terasa gundah. wajah bersihnya, tak pernah hilang di pelupuk mataku saat ini. pandangan matanya yang teduh menunduk, membuat hatiku sedemikian terpikat. pembicaraan teman-teman tentang pemuda itu, semakin membuat hatikku tertawan. aku pernah menatap sekilas wajahnya dan mendengar tutur katanya. bahkan aku pernah mendengar tilawah qur'annya. tapi aku belum pernah emnyaksikan wibawanya. tiba-tiba air mataku mengalir deras. hatiku merasakan aliran kesejuakan dan kegembiraan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. dalam bathinku, ku berkata, "inikah cinta? beginikah rasanya? terasa hangat mengaliri syaraf. juga terasa sejuk di dalam hati. ya rabbi, tak bisa aku pungkiri lagi, bahwa aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama...........
Assalamu'alaikum Dy Aku harus bisa mengambil kekurangan yang ada pada diriku untuk bisa mengintregasikan semua unsur yang ada dalam diriku pula. Salah satu hal yang mungkin agak susah untuk kulakukan adalah mengakui kelemahan. Bahkan aku pernah sekali menganggap kelemahanku itu tidak ada. Tidak realistis. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menutupi segala kelemahan. Namun, apakah kelemahanku itu menjadi benar-benar hilang? JAWABANKU, "TIDAK!" Mengambil kekurangan, kusamakan dengan proses analisis diri. Setahuku, ada beberapa hal dan tahapan untuk bisa kesana. Kekurangan diriku itu bisa diambil dari diriku. Ku genggam dengan tanganku. Kekurangan dan kelemahanku itu kutimang, kulelaah, dan harus bisa kujadikan bahan bakar, atau mungkin bisa dikreasikan menjadi sebuah karya yang lebih bagus, Yah. Itulah yang sulit berusaha kulakukan. Mengambil kekurangan, seperti membuat peta diriku sendiri dan menandai daerah bahayanya. Menandai kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri...