Assalamu'alaikum Dy
Aku harus bisa mengambil kekurangan yang ada pada diriku untuk bisa mengintregasikan semua unsur yang ada dalam diriku pula. Salah satu hal yang mungkin agak susah untuk kulakukan adalah mengakui kelemahan. Bahkan aku pernah sekali menganggap kelemahanku itu tidak ada. Tidak realistis. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menutupi segala kelemahan. Namun, apakah kelemahanku itu menjadi benar-benar hilang?
JAWABANKU, "TIDAK!"
Mengambil kekurangan, kusamakan dengan proses analisis diri. Setahuku, ada beberapa hal dan tahapan untuk bisa kesana. Kekurangan diriku itu bisa diambil dari diriku. Ku genggam dengan tanganku. Kekurangan dan kelemahanku itu kutimang, kulelaah, dan harus bisa kujadikan bahan bakar, atau mungkin bisa dikreasikan menjadi sebuah karya yang lebih bagus, Yah. Itulah yang sulit berusaha kulakukan.
Mengambil kekurangan, seperti membuat peta diriku sendiri dan menandai daerah bahayanya. Menandai kekurangan dan kelemahan yang ada pada diriku. Dalam peta diriku, aku mungkin bisa memandang diriku secara obyektif dan realistis.
Namun, yang terpenting adalah, ...
Mengambil kekurangan, bisa membuatku belajar tangguh.
Tidakkah mengambil kekurangan bisa membuatku lemah dan cengeng?!
Aku harus bisa objektif dan realistis.
CAMKAN, ITU!
INGAT-INGATLAH!
BERUSAHA INGAT-INGATLAH!
AMBIL KEKURANGANKU!
Oh, mungkin demikianlah pada awalnya. Mengetahiu bahwa diriku penuh dengan kekurangan memang memang bisa membuatku sedih dan menangis. Merenunginya. Namun, kekuranganku itu bisa dinasehati sehingga bisa menghasilkan suatu yang unik dan menghasilkan suatu karya yang lebih baik.
Di buat: tanggal 1 Mei 2012
Karya: Fajriyah Mu'minah
Aku harus bisa mengambil kekurangan yang ada pada diriku untuk bisa mengintregasikan semua unsur yang ada dalam diriku pula. Salah satu hal yang mungkin agak susah untuk kulakukan adalah mengakui kelemahan. Bahkan aku pernah sekali menganggap kelemahanku itu tidak ada. Tidak realistis. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menutupi segala kelemahan. Namun, apakah kelemahanku itu menjadi benar-benar hilang?
JAWABANKU, "TIDAK!"
Mengambil kekurangan, kusamakan dengan proses analisis diri. Setahuku, ada beberapa hal dan tahapan untuk bisa kesana. Kekurangan diriku itu bisa diambil dari diriku. Ku genggam dengan tanganku. Kekurangan dan kelemahanku itu kutimang, kulelaah, dan harus bisa kujadikan bahan bakar, atau mungkin bisa dikreasikan menjadi sebuah karya yang lebih bagus, Yah. Itulah yang sulit berusaha kulakukan.
Mengambil kekurangan, seperti membuat peta diriku sendiri dan menandai daerah bahayanya. Menandai kekurangan dan kelemahan yang ada pada diriku. Dalam peta diriku, aku mungkin bisa memandang diriku secara obyektif dan realistis.
Namun, yang terpenting adalah, ...
Mengambil kekurangan, bisa membuatku belajar tangguh.
Tidakkah mengambil kekurangan bisa membuatku lemah dan cengeng?!
Aku harus bisa objektif dan realistis.
CAMKAN, ITU!
INGAT-INGATLAH!
BERUSAHA INGAT-INGATLAH!
AMBIL KEKURANGANKU!
Oh, mungkin demikianlah pada awalnya. Mengetahiu bahwa diriku penuh dengan kekurangan memang memang bisa membuatku sedih dan menangis. Merenunginya. Namun, kekuranganku itu bisa dinasehati sehingga bisa menghasilkan suatu yang unik dan menghasilkan suatu karya yang lebih baik.
Di buat: tanggal 1 Mei 2012
Karya: Fajriyah Mu'minah
Komentar
Posting Komentar